AGALAIN.ID – Deru mesin molen berpadu dengan tawa warga di Desa Tonala. Di tengah debu dan keringat, ada semangat yang nggak bisa diukur pakai angka semangat kebersamaan.
Program TMMD mungkin terdengar formal di atas kertas, tapi di lapangan, ini terasa kayak “reuni besar” antara warga dan TNI. Semua turun tangan, dari bapak-bapak yang bawa semen sampai anak muda yang bantu ngaduk beton.
Mereka nggak cuma kerja bareng, tapi juga saling belajar: prajurit belajar ketulusan dari warga, warga belajar disiplin dari prajurit.
“Rasanya kayak balik ke zaman dulu, tapi dengan cara yang lebih modern. Kami bareng-bareng bikin desa ini maju, tapi tetap dengan rasa kekeluargaan,” cetus salah satu warga yang ikut sejak hari pertama.
Setiap sore, kopi hitam mengepul di teras rumah warga. Di situ, batas antara seragam hijau dan baju biasa seolah hilang.
Obrolan santai tentang keluarga, mimpi, dan masa depan desa jadi bukti bahwa pembangunan sejati itu bukan cuma soal infrastruktur, tapi soal connection manusia dengan manusia.
TMMD di Desa Tonala membuktikan bahwa nilai-nilai lama seperti gotong royong masih relevan banget di era sekarang.
Bedanya, sekarang ada sentuhan profesional, disiplin, dan kolaborasi modern yang bikin semuanya makin kuat.
Karena di balik jalan beton yang kokoh, ada hati-hati yang saling percaya. Dan di situlah, sesungguhnya, fondasi bangsa dibangun. (*)













