AGALAIN.ID – Sidoarjo lagi-lagi jadi sorotan nasional. Bukan karena prestasi, tapi karena tragedi besar yang bikin hati ikut sesak. Sebuah gedung di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, ambruk tiba-tiba. Puluhan santri jadi korban, dan sampai Jumat (3/10/2025) malam, 13 nyawa sudah melayang.
Kejadian ini langsung bikin publik bereaksi. Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) bahkan turun tangan. Ketua FKBI, Tulus Abadi, bilang kalau kasus ini nggak boleh dianggap “musibah biasa”. Ada tanda-tanda kuat kalau penyebabnya adalah kegagalan konstruksi.
“Kalau benar ini karena bangunan nggak sesuai standar, artinya ada pelanggaran serius. Apalagi ini gedung publik yang dipakai banyak orang,” tegas Tulus.
Yang bikin makin miris, penanganan pasca-insiden dinilai super lambat. Alat berat baru diturunkan di hari ketiga, padahal sejak hari pertama udah jelas banyak korban yang masih kejebak di bawah reruntuhan.
“Sekarang udah masuk hari kelima, ratusan korban masih terperangkap. Kalau dari awal evakuasi lebih cepat, mungkin korban jiwa bisa berkurang,” tambahnya.
FKBI pun minta polisi, Dinas PU Sidoarjo, sampai Dinas PU Provinsi untuk serius turun tangan. Bahkan mereka dorong dibentuk tim investigasi independen bareng para insinyur biar penyelidikan benar-benar objektif.
Bukan cuma itu, FKBI juga ngusulin audit menyeluruh ke semua gedung pesantren. Menurut mereka, keselamatan ribuan santri nggak boleh dipertaruhkan hanya karena pembangunan yang nggak sesuai aturan.
“Keselamatan anak-anak santri harus nomor satu. Audit bangunan itu penting banget biar tragedi kayak gini nggak kejadian lagi,” tutup Tulus. (*)









