AGALAIN.ID – “Pak… saya mau sekolah… saya mau jadi orang pintar…” Sebuah video pendek berdurasi 37 detik mendadak viral. Video tersebut memperlihatkan tangis seorang Galang Rawadang (12) menggema di depan rumah sederhana berdinding kayu.
Bukan karena tidak naik kelas, bukan karena dimarahi guru. Tapi karena hari itu, ia diminta berhenti sekolah oleh orang yang paling ia cintai: Ayahnya sendiri.
Di sebuah dusun kecil di Kecamatan Una-Una, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, di balik hutan lebat dan laut yang sunyi hidup seorang bocah kelas 5 SD dengan mimpi besar dan kenyataan yang terlalu kejam untuk anak seusianya.
Galang adalah anak yang selalu datang paling pagi ke SDN 2 Wakai. Ia datang dengan seragam satu-satunya lusuh, dan warnanya telah pudar seperti harapan. Ia sering diejek teman-temannya karena pakaian sekolahnya tak seperti yang lain.
Tapi Galang tetap belajar. Ia tetap duduk paling depan, berharap bisa mengubah nasib.Namun kini, ia diminta berhenti sekolah oleh ayahnya, Rikson Lawadang (51), yang hanya bisa terbaring lemah karena lumpuh dan tak bisa lagi bekerja.
“Saya tak punya pilihan, untuk makan saja kita harus menunggu belas kasih orang lain,” lirih sang ayah, dengan mata yang sembab menahan perasaan gagal sebagai orangtua.
Galang hanya terdiam di sudut rumah, menangis tanpa suara. Ia tahu ayahnya mencintainya. Ia tahu bukan karena tidak ingin, tapi karena hidup sudah terlalu kejam untuk mereka.
Ibunya tak ada. Kakak perempuannya sudah diasuh orang lain karena sang ayah tak sanggup membiayai. Kini hanya Galang yang tersisa, berjuang sendiri untuk mempertahankan satu-satunya hal yang masih bisa ia pegang: pendidikan.
Galang tidak minta banyak. Ia hanya ingin tetap sekolah, mengenakan seragam yang layak, membawa buku, dan bermimpi jadi orang pintar.
Tapi takdir seolah mengurungnya dalam kemiskinan dan kesepian. Ia tak punya uang, tak punya kendaraan, dan kini, hampir kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.
Di mana hati kita saat seorang anak menangis bukan karena mainannya rusak, tapi karena ia ingin belajar? Di mana kepedulian kita saat satu-satunya seragam sekolah menjadi alasan anak ini dibuli dan hampir menyerah?
Bantu Galang… karena tak ada anak yang pantas berhenti sekolah hanya karena tak punya uang.













